Serial Tabuk - 1
Oleh : Cahyadi Takariawan
Apakah yang terjadi pada seorang Ka’ab bin Malik ? Ya, ia tidak
berangkat ke Tabuk. Masyaallah, harusnya ia berangkat. Sebagaimana
perang-perang sebelumnya, bukankah ia tidak pernah absen ? Mengapa ia
tidak berangkat menuju Tabuk, padahal Nabi dan para sahabat telah
berangkat ?
Pasti ia punya kondisi dan situasi yang membuatnya tidak berangkat. Ada sesuatu di balik ketidakberangkatannya.
Fasilitas Itu….
“Aku sama sekali tidak pernah absen mengikuti semua peperangan
bersama Rasululah saw, kecuali dalam perang Tabuk. Ketidakikutsertaanku
dalam perang Tabuk itu karena diriku dilalaikan oleh perhiasan dunia.
Ketika itu keadaan ekonomiku jauh lebih baik daripada hari-hari
sebelumnya. Demi Allah, aku tidak pernah memiliki barang dagangan lebih
dari dua muatan onta, akan tetapi pada waktu peperangan itu aku
memilikinya”.
Masyaallah. Demikian lugas pengakuan Ka’ab, “Ketidakikutsertaanku
dalam perang Tabuk itu karena diriku dilalaikan oleh perhiasan dunia”.
Ternyata bukan hanya “orang awam” yang bisa dilalaikan oleh perhiasan
dunia. Seorang mujahid, sahabat Nabi, terlahir menjadi generasi terbaik
sepanjang sejarah kemanusiaan, tetap bisa terlalaikan oleh perhiasan
dunia. Kurang apa Ka’ab. Tidak pernah absen dalam seluruh peperangan,
benar-benar mujahid setia.
“Demi Allah, aku tidak pernah memiliki barang dagangan lebih dari dua
muatan onta, akan tetapi pada waktu peperangan itu, aku memilikinya”.
Artinya, bukan soal fasilitas yang menyebabkan Ka’ab tidak berangkat ke Tabuk.
Di zaman kita sekarang, Tabuk itu tidaklah jauh. Sesungguhnya Tabuk
kita lebih simpel dibandingkan di zaman Ka’ab. Namun
“ketidakberangkatan” tetap saja terjadi. Coba ukur, seberapa jauh
Tabukmu ?
Ada kader yang merasakan kesulitan ekonomi, yang menyebabkannya
memiliki banyak keterbatasan dalam mengikuti kegiatan dakwah. Ia
mengatakan, “Andai aku punya motor, tentu akan lebih banyak kegiatan
dakwah yang bisa aku lakukan”. Ketika punya motor ternyata ia masih
merasa banyak keterbatasan. “Andai aku punya mobil, tentu aktivitasku
menjadi lebih leluasa”. Saat memiliki mobil, tetap saja banyak alasan.
“Andai mobilku bagus, pasti tidak ada lagi kendala berkegiatan”.
Saat mobilnya sudah bagus, ternyata tetap saja ia tidak tergerak
untuk aktif berdakwah. Apa yang terjadi padanya ? Padahal sekian banyak
mujahid dakwah berjalan kaki melakukan kegiatan, dan berlelah-lelah di
tengah keterbatasan sarana serta fasilitas. Dakwah tetap berjalan tanpa
tergantung kepada ketersediaan dan kelengkapan fasilitas.
Mengapa ada yang tetap tidak berangkat ?
Panas, Jauh, Lelah….
“Peperangan ini Rasulullah saw lakukan dalam kondisi panas terik
matahari gurun yang sangat menyengat, menempuh perjalanan nan teramat
jauh, serta menghadapi lawan yang benar-benar besar dan tangguh…
Rasulullah saw mempersiapkan pasukan yang akan berangkat. Aku pun
mempersiapkan diri untuk ikut serta, tiba-tiba timbul pikiran ingin
membatalkannya, lalu aku berkata dalam hati : Aku bisa melakukannya
kalau aku mau!”
Bukan panas musim kemarau seperti yang sering kita alami di
Indonesia, namun panas terik matahari gurun yang sangat menyengat.
Sangat panas, harus menempuh perjalanan yang jauh, dan “hanya” untuk
berperang. Bukan untuk rekreasi, bukan untuk wisata kuliner, bukan untuk
menginap di hotel berbintang, bukan untuk tamasya dengan keluarga.
Sangat panas, sangat jauh, naik kuda atau unta, tentu akan sangat lelah,
dan di sana telah menunggu musuh yang sangat tangguh.
Tabuk di zaman Ka’ab sungguh jauh. Tidak ada pesawat terbang, tidak
ada mobil ber-AC, tidak ada sarana yang memadai untuk menempuh jarak
yang sedemikian panjang dan cuaca yang sangat panas terik.
Di zaman kita sekarang, Tabuk itu tidaklah jauh, tidak panas terik.
Ada pesawat terbang, ada kereta api eksekutif, ada bus eksekutif, ada
taksi, ada travel, ada mobil ber-AC, ada motor, ada sepeda. Tabuk kita
bahkan tidak panas, namun “ketidakberangkatan” tetap saja terjadi.
Sebenarnya, seberapa jauhkah Tabukmu ?
Awalnya kita merasa “Aku bisa melakukannya kalau aku mau !” Ah, tapi apa yang aku dapat kalau berangkat ?
Mengaji, di tempat para murabbi bahkan kita disuguhi. Rapat, di
tempat pertemuan tersedia banyak jajanan. Berbagai agenda dakwah,
seperti tatsqif, mabit, daurah, bahkan mukhayam, semua full fasilitas.
Apa yang menghalangi untuk datang ke berbagai agenda dakwah tersebut ?
Apa yang menjadi alasan ketidakberangkatan ?
Apa sebenarnya perang kita ? Apa yang ada di Tabuk kita ?
Dikuasai Kemalasan
“Akhirnya aku terbawa oleh pikiranku yang ragu-ragu, hingga para
pasukan kaum muslimin mulai bergerak meninggalkan Madinah. Saat aku
lihat pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah, timbul pikiranku
untuk mengejar mereka, toh mereka belum jauh. Namun, aku tidak
melakukannya, kemalasan menghampiri dan bahkan menguasai diriku…”
Di zaman kita, ada kader yang melihat kader lain yang sangat aktif
dan dinamis dengan berbagai agenda dakwah, sempat terpikir “Aku masih
bisa mengejar mereka”. Ya, aku akan menyusul mereka. Tapi mengapa tidak
engkau lakukan ? Mengapa tidak engkau susul mereka ? Mengapa engkau
tetap tidak berangkat ? Apa alasan ketidakberangkatanmu ?
“Kemalasan menghampiri dan bahkan menguasai diriku……”
Padahal kita tidak bertemu panas terik gurun pasir. Kita tidak
bertemu jarak yang demikian jauh untuk ditempuh dengan kaki. Yang kita
temui adalah sarana dan fasilitas yang lengkap. Acara dari hotel ke
hotel. Kegiatan dari rumah ke rumah. Rapat dari ruang ke ruang.
Koordinasi dari gedung ke gedung. Semua nyaman, semua menyenangkan,
semua sejuk, semua penuh dengan suguhan.